![]() |
| Sumber: Perfectbeauty.com |
![]() |
| Sumber: healthline |
![]() |
| Sumber: Perfectbeauty.com |
![]() |
| Sumber: healthline |
Pernahkah Anda mengonsumsi kuliner yang berbahan dasar daun pepaya? Kalau kita mencari di situs cookpad, daun tersebut bisa saja dimasak menjadi berbagai aneka kuliner, yaitu oseng/tumis daun pepaya dan gulai daun pepaya. Selain itu, daun pepaya dapat digunakan sebagai bahan pelengkap kuliner lain, yaitu mendhol tempe. Namun, sebagian besar masyarkat di kalangan remaja dan anak-anak tidak menyukai daun pepaya tersebut, karena berasa pahit. Hal ini dikarenakan daun pepaya mengandung kandungan alkaloid karpain (Ledoh & Irianto, 2020) yang berkontribusi memberikan rasa pahit.
Padahal, sesungguhnya daun pepaya memiliki segudang manfaat untuk kesehatan, salah satunya yaitu dapat memelihara kesehatan mata, karena mengandung betakaroten. Terlebih lagi daun pepaya tersebut mengandung 18.250 μg beta karoten. Terbukti, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan wortel yang mengandung hanya 7.125 μg (Putri dkk., 2017). Selain itu, daun pepaya mengandung papain yang bersifat stomakik, yang dapat meningkatkan nafsu makan. Pohon pepaya juga mudah ditemukan di berbagai daerah, yaitu tropis dan subtropis. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sa'adah (2022) tertulis bahwa "Daun pepaya mudah ditemukan di berbagai daerah karena pohon pepaya dikenal cukup mudah tumbuh.". Oleh karena itu, diperlukan langkah yang tepat dalam mengolah daun pepaya. Sebagai awalan, mari kita mengenal daun pepaya terlebih dahulu ya. Daun pepaya berwarna hijau, memiliki bentuk tulang daun menjari, dan banyak di temukan di berbagai daerah. Gambar daun pepaya sebelum dan sesudah diolah dapat dilihat pada Gambar 1.
![]() |
| Gambar 1. Daun pepaya sebelum (kiri) dan sesudah diolah (kanan). (tribunstyle.com & sajiansedap.com) |
Berikut adalah cara-cara untuk menghilangkan rasa pahit daun pepaya yang disadur dari berbagai sumber:
1. Putri dkk. (2017) dalam artikelnya yang berjudul Kajian Kombinasi Daun Pepaya (Carica papaya L.) dan Daun Surian (Toona sureni (Bl.) Merr.) serta Aplikasinya pada Produk Mie Basah menyatakan bahwa cara untuk mengurangi rasa pahit daun pepaya dengan cara mencampurkannya dengan daun surian dalam proses perebusan dengan menggunakan perbandingan 1 daun surian : 4 daun pepaya selama 15 menit. Daun surian tidak memiliki kandungan alkaloid sehingga kandungan alkaloid dalam daun pepaya terdifusi ke daun surian melalui air rebusan. Telah terbukti bahwa daun surian sebesar 75 % dengan lama proses perebusan 15 menit merupakan produk terbaik berdasarkan uji organoleptik.
2. Wardhani (2019) menyatakan bahwa tanah lempung dapat mengurangi intensitas rasa pahit dari daun pepaya. Proses perebusan perlu dicampurkan dengan tanah lempung dan didapatkan bahwa perebusan daun pepaya selama 10 menit dengan penambahan 30 gram tanah lempung menghasilkan rasa yang paling tidak pahit. Hal ini disebabkan oleh karena kandungan Mn pada tanah lempung yang bermuatan negatif yang akan menarik muatan positif dari senyawa alkaloid sehingga senyawa alkaloid di dalam daun pepaya berkurang. Apabila tanah lempung dapat mengurangi rasa pahit, maka varian buah-buahan tertentu juga dapat dapat mengurangi rasa pahit daun pepaya. Buah-buahan yang berasa masam, yaitu buah asam, belimbing wuluh dapat mengurangi rasa pahit daun pepaya (Nur, 2018).
3. Arief (2012) dalam Ledoh & Irianto (2016) menyatakan bahwa empat hingga enam lembar daun pepaya dicampurkan dan direbus dengan delapan hingga sepuluh lembar daun jambu biji dapat menghilangkan rasa pahit. Hal ini dikarenakan kandungan tanin yang dapat menyerap senyawa alkaloid berasal dari daun pepaya yang terlarut dalam air rebusan. Tanin mengandung gugus hidroksi yang dapat mengikat dan mengendapkan alkaloid (Ledoh & Irianto, 2016). Selain perebusan dengan menggunakan daun jambu biji, kulit buah jambu biji juga dapat mengurangi kandungan alkaloid. Berdasarkan Gunawan (2009) dalam Anonim (2022) kombinasi daun pepaya, daun singkong dan daun jambu biji dengan perbandingan 200 gram, 200 gram dan 50 gram secara berturut-turut dapat menghilangkan rasa pahit daun pepaya.
Daftar pustaka
Anonim. (2022). http://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3065-2962/Daun-Pepaya_127879_p2k-unkris.html. Diakses tanggal 22 Juni 2022. Pukul 08:01
Arief, Z. 2012. Daun Jambu Biji Sebagai Penghilang Rasa Pahit Daun Pepaya. [Karya Ilmiah. 2012]. Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya.
Cookpad. (2022). https://cookpad.com/id/cari/daun%20pepaya. Diakses tanggal 22 Juni 2022. Pukul 08:01
Gunawan, A.W. (2009). Food Combining, Kombinasi Makanan Serasi. Jakarta: Gramedia
Harimukti, I. (2013). Kandungan Saponin dan Flavonoid Pada Daun Pepaya (Carica papaya L.) Akibat Lama Perebusan Bersama Daun Singkong (Manihot utilissima). [Skripsi]. Fakultas KIP Biologi IKIP PGRI Semarang.
Ledoh, S. M., & Irianto, F. (2016). Perbandingan total alkaloid pada daun pepaya (Carica papaya L.) akibat perebusan bersama dengan atau tanpa kulit buah jambu mente (Anacardium occidentale L.). Jurnal MIPA-Penelitian dan Pengembangan (JMIPA), 20(1), 89-95.
Nur, A. (2018). Efek Analgetik Kombinasi Ekstrak Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) Dan Ekstrak Daun Pepaya (Carica Papaya L.) Pada Mencit (Mus musculus) Amran. As-Syifaa, 10(02), 213-220.
Putri, S. H., Sayuti, K., & Nurdin, H. (2017). Kajian Kombinasi Daun Pepaya (Carica papaya L.) dan Daun Surian (Toona sureni (Bl.) Merr.) serta Aplikasinya pada Produk Mie Basah. Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian, 11(1), 22-29.
Sa'adah, S. (2022). Mudah Ditemukan, Daun Ini Ternyata Punya Banyak Manfaat Bagi Kesehatan. https://prfmnews.pikiran-rakyat.com/lifestyle/pr-133928257/mudah-ditemukan-daun-ini-ternyata-punya-banyak-manfaat-bagi-kesehatan
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. (2000). Pepaya. https://distan.jogjaprov.go.id/wp-content/download/buah/pepaya.pdf. Diakses tanggal 22 Juni 2022. Pukul 08:01
Wardhani, F.H.D. (2019). KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA DAN SENSORI DARI DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) YANG DIREBUS DENGAN TANAH LEMPUNG. http://repository.unika.ac.id/21544/2/15.I1.0136%20FRISKA%20HANNY%20DANISA%20WARDHANI%20-%20BAB%20I.pdf. Diakses tanggal 22 Juni 2022. Pukul 08:01
Proses Pengolahan dan Manfaat Susu Kedelai
Oleh: Michael Adrian Iskandar l Food enthusiast
![]() |
| Kacang kedelai dan susu kacang kedelai Sumber: alodokter |
Susu kedelai merupakan susu yang terbuat dari kacang kedelai yang disortir, dicuci, direndam, direbus, digiling dan disaring setelah itu filtrat dari proses penyaringan disebut susu kedelai. Pada proses terakhir dilakukan pemanasan. Berdasarkan sejarahnya, Liu An yaitu Pangeran yang berasal dari Dinasti Han, Raja Huainan berusaha mengobati ibunya yang sakit dan tidak dapat mengonsumsi makanan keras, dengan meminta ibunya untuk meminum hasil cairan rendaman kacang kuning yang sudah digiling sehingga kondisi kesehatan ibunya semakin membaik dan lama-kelamaan susu kedelai dikenal oleh masyarakat.
Penyortiran dan pencucian digunakan untuk memilih dan membersihkan kacang kedelai berkualitas baik, lalu perendaman bertujuan untuk mempercepat proses pengelupasan kulit ari sehingga kacang tersebut lebih mudah digiling. Secara umum, proses perendaman menggunakan air panas bermanfaat untuk mengurangi bau langu yang ada pada kacang kedelai (Setiavani, 2012). Penggilingan bertujuan untuk mengeluarkan kandungan gizi, salah satunya yaitu protein kemudian penyaringan bertujuan untuk mendapatkan sari kacang kedelai. Langkah terakhir yaitu pemanasan berguna untuk mematikan mikroorganisme patogen (Budirmawanti, 2022).
Sama dengan halnya proses perendaman, proses pemanasan menggunakan api sedang dapat mengurangi bau langu pada kedelai. Selain itu, terbukti bahwa perendaman biji kedelai dengan menggunakan natrium bikarbonat 1,1% selama delapan jam dapat mengurangi bau langu pada kacang kedelai (Budirmawanti, 2022). Bau langu atau beany flavor pada kacang kedelai disebabkan oleh enzim lipoksigenase yang dapat menyebabkan oksidasi asam lemak tidak jenuh salah satunya linolenik menjadi asam lemak hidroperoksida yang menyebabkan langu (Yulianto & Hartati, 2010).
Berdasarkan Nirmagustina & Rani (2013) dikatakan bahwa susu kedelai memiliki beberapa manfaat, yaitu: proses pembuatannya yang relatif mudah, disukai oleh anak-anak/remaja sehingga memiliki target pasar yang beragam. Selain itu, susu kedelai cocok dikonsumsi oleh penderita lactose intolerant dan diabetes melitus. Lactose intolerance merupakan ketidakmampuan tubuh dalam memecah laktosa yang sering ditemukan di susu sapi. Laktosa merupakan kombinasi dari glukosa dan galaktosa.
![]() |
| Enzim laktase yang memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa Sumber: Gurupendidikan.com |
Daftar pustaka
Budirmawanti, C. (2022). KOMPOSISI DAN NUTRISI PADA SUSU KEDELAI. http://staffnew.uny.ac.id/upload/131877177/pengabdian/KOMPOSISI+DAN+NUTRISI+PADA+SUSU+KEDELAI.pdf
Nazarotin, S. (2020). Susu Kedelai, Minuman Warisan Dinasti Han yang Kaya Manfaat. https://www.kompasiana.com/sitinazar/5ee83120097f3610684c00d2/susu-kedelai-minuman-warisan-dinasti-han-yang-kaya-manfaat#:~:text=Asal%2Dusul%20Susu%20Kedelai&text=Diceritakan%20bahwa%20Raja%20Huainan%2C%20Liu,kemudian%20dikenal%20sebagai%20Susu%20Kedelai. Diakses pada tanggal 20 Juni 2022.
Nirmagustina, D. E., & Rani, H. (2013). Pengaruh jenis kedelai dan jumlah air terhadap sifat fisik, organoleptik dan kimia susu kedelai. Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian, 18(2), 168-174.
Setiavani, G., TP, S., & di STPP Medan, M. S. P. (2012). Inovasi Pembuatan Susu Kedele tanpa Rasa Langu. Page Pelatihan Kewirausahaan bagi Kelompok Afinitas Kelurahan Mandiri.
Yulianto, M. E., & Hartati, I. (2010). Kajian Model Matematis Kinetika Inaktivasi Enzim Lipoksigenase untuk Produksi Tepung Biji Kecipir sebagai Tepung Komposit. Majalah Ilmiah MOMENTUM, 6(1).
Cendol merupakan makanan khas Indonesia berbentuk lonjong lancip di kedua ujungnya, bertekstur kenyal, dan berwarna hijau. Menariknya, dalam bahasa sunda, orang yang meminum cendol disebut juga nyendol. Cendol sering dikaitkan dengan kata Jhendol, yaitu jeli yang membengkak berbentuk menyerupai cacing besar dan telah dikenal di berbagai Negara. Makanan tersebut digemari oleh kalangan anak-anak hingga dewasa berbahan dasar tepung beras/tepung kacang hijau, Proses pembuatan cendol relatif mudah dengan cara mencampur tepung tapioka, tepung beras dan air kemudian direbus selama 10 menit. Ketika perebusan berlangsung, ekstrak pewarna alami ditambahkan selanjutnya diaduk. Terakhir, dicetak menggunakan cetakan cendol dan cetakkan tersebut dimasukkan ke dalam air es. (Hasanah, 2022).
![]() |
| Cendol Sumber: Marikitamasak.com |
Berdasarkan fatsecret, 100 gram cendol memiliki 23,49 gram karbohidrat, 1,87 gram protein serta 6,37 gram lemak hal tersebut membuktikan bahwa cendol bergizi. Dalam membeli dan mengonsumsi cendol, Masyarakat sering mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu warna, aroma, serta tekstur. Cendol merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam minuman es cendol atau dawet. Dalam memperoleh cendol yang disukai oleh konsumen, pangan tersebut dapat ditambahkan dengan bahan aditif, yaitu pengental, pewarna, dan penambah aroma. Secara umum, bahan pengental, pewarna serta penambah aroma yang digunakan yaitu tepung tapioka, daun suji dan daun pandan. Berikut adalah tips-tips untuk membuat cendol menjadi lebih disukai oleh konsumen:
1. Warna cendol
Warna merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam menarik perhatian konsumen. Dalam mewarnai cendol dapat digunakan pewarna alami atau buatan. Pewarna alami yang dapat digunakan, yaitu daun suji, kulit buah naga, bunga telang. Dalam menggunakan pewarna alami, Hasanah (2022) mengekstrak kulit buah naga dengan cara dicuci, dipotong, dimasukkan ke dalam blender, ditambahkan air serta disaring. Warna cendol dapat mempengaruhi daya tarik konsumen. Bagaimanapun, konsumen memiliki daya tarik yang berbeda-beda. Apabila menginginkan warna cendol yang pekat, jumlah pewarna alami dan buatan yang ditambahkan perlu lebih tinggi. Hal ini diakibatkan oleh pigmen warna yang terkandung di dalam masing-masing pewarna alami lebih banyak. Dalam daun suji terkandung pigmen warna klorofil, sedangkan dalam kulit buah naga terkandung pigmen antosianin dan betasianin.
2. Tekstur cendol
Kekenyalan tekstur cendol dipengaruhi oleh jumlah dan jenis tepung yang digunakan. Secara umum, tepung yang digunakan adalah tepung beras, kombinasi tepung beras dan tepung kacang hijau serta tepung tapioka. Tepung tapioka sering digunakan untuk membuat tekstur cendol menjadi lebih kenyal dan diduga dapat mencapai mouthfeel yang diinginkan. Berdasarkan penelitian Rahman (2015) terbukti bahwa cendol yang mengandung 75% tepung beras akan menghasilkan produk yang mudah patah sedangkan cendol yang mengandung 75% tepung tapioka menghasilkan tekstur sangat kenyal sehingga tidak disukai oleh panelis. Hal ini dikarenakan tepung tapioka mengandung kadar amilopektin yang tinggi, yaitu 83% (Ambarningrum, 2021). Kandungan amilopektin menyebabkan penyerapan air ke dalam molekul pati lebih banyak sehingga ukuran pati membesar. Sehingga, tekstur cendol yang terbentuk semakin padat dan lebih resisten terhadap kerusakan mekanis. Oleh karena itu, dalam membentuk tekstur cendol perlu mencari perbandingan atau jumlah tepung yang berbeda.
3. Aroma cendol
Aroma cendol diduga dapat menguggah selera orang yang suka nyendol. Secara umum, aroma cendol dapat menjadi lebih wangi dengan ditambahkan daun pandan. Sebagian besar pewarna alami tidak memiliki kemampuan untuk memberikan aroma misalnya seperti bunga telang. Hal ini didukung oleh Fizriani (2021) yang berpendapat bahwa ekstrak bunga telang tidak beraroma. Oleh karena itu penggunaan daun pandan sangat penting. Selain itu, daun pandan juga dapat menutupi aroma yang tidak diinginkan, yaitu aroma langu berasal dari bahan-bahan lainnya. Terlebih lagi, aroma daun pandan diketahui memiliki efek relaksasi. Bagaimanapun, aroma yang terdeteksi dipengaruhi oleh jumlah daun pandan/ bahan pewangi yang ditambahkan. Berdasarkan penelitian Wulandari dkk. (2019) terbukti bahwa semakin banyak konsentrasi ubi ungu yang ditambahkan akan membuat aroma khas ubi ungu dapat terasa.
Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.
Daftar Pustaka
Anonim. (2022). https://eprints.umm.ac.id/48356/3/BAB%20II.pdf. Diakses tanggal 12 Juni 2022
Ambarningrum, D. (2021). Pengaruh Rasio Tapioka dan Tepung Beras serta Suhu Pengeringan Bunga Telang terhadap Sifat Fisik, Kimia, dan Tingkat Kesukaan Cendol. Naskah Publikasi Program Studi Teknologi Hasil Pertanian.
Azzahra, D. A. N. S., Achmad, S. H., & Nurlena, N. (2021). Pemanfaatan Daun Kelor Sebagai Subsitusi Daun Suji Pada Cendol The Utilization Of Moringa Leaves As Subsitusion Of Suji Leaves In Cendol. eProceedings of Applied Science, 7(6).
Fatsecret. (2022). https://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/cendol?portionid=10411732&portionamount=100,000
Fizriani, A., Quddus, A. A., & Hariadi, H. (2021). Pengaruh Penambahan Ekstrak Bunga Telang terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik pada Produk Minuman Cendol. Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian, 4(2), 136-145.
Harmayani, E., Murdiati, A., & Griyaningsih, G. (2011). Karakterisasi pati ganyong (Canna edulis) dan pemanfaatannya sebagai bahan pembuatan cookies dan cendol. AgriTECH, 31(4).
Hasanah, A., Nurrahman, N., & Suyatno, A. (2022). Penambahan Ekstrak Kulit Buah Naga terhadap Derajat Warna, Kadar Antosianin, Aktivitas Antioksidan dan Sifat Sensoris Cendol. Jurnal Pangan dan Gizi, 12(1), 25-31.
Octaviana, F. S. (2022). KAJIAN PEMBUATAN CENDOL DENGAN PENAMBAHAN FILTRAT DAUN KELOR (Moringa oleifera, L) DAN PANDAN WANGI (Pandanus amaryllifolius, Roxb) SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN ALAMI (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Malang).
Mustikasari, A. I. (2019). Jenis-jenis cendol dan segelitintir filosofinya. https://etnis.id/jenis-jenis-cendol-dan-segelintir-filosofinya/#:~:text=Bentuk%20dawet%20yang%20bulat%20pun,atau%20pecahan%20genting%2C%20bukan%20uang.
Rahman, M., & Mardesci, H. (2015). Pengaruh Perbandingan Tepung Beras dan tepung Tapioka Terhadap Penerimaan Konsumen Pada Cendol. Jurnal Teknologi Pertanian, 4(1), 18-28.
Silalahi, M. (2018). Pandanus amaryllifolius Roxb (Pemanfaatan dan potensinya sebagai pengawet makanan). Jurnal Pro Life, 5(3), 626-636.
Warasi, Y.M. (2021). Mengenal Cendol, Serta Sejarahnya dan Variasinya. https://cairofood.id/mengenal-cendol-sejarah-variasi/
Widiyani, A. (2018). Cinta Kuliner Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Wulandari, P. A., Sugitha, I. M., & Arihantana, N. M. I. H. (2019). PENGARUH PERBANDINGAN TEPUNG BERAS DENGAN PASTA UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L. Poir) TERHADAP KARAKTERISTIK CENDOL. Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan (ITEPA), 8(3), 248-256.
Di pasaran, sering kita melihat terdapat dua warna quaker oats, quaker oats terdapat kemasan merah dan biru, yaitu Quaker instant oat meal yang berwarna merah dan Quaker cooking oat meal yang berwarna biru.
Makanan instan yang berasal dari Korea atau disebut juga K-food, yaitu bulgogi.kimchi, Jjangmyeon makin berjamuran di pasaran. Siapa nih yang tahu atau bahkan sudah pernah mencoba mie Jjangmyeon di pasaran? Yup benar sekali, Jjangmyeon terasa manis, asin, dan gurih, berwarna coklat kehitaman dan lezat.
Begini Cara Mengatasi Panic Buying
Ketika covid melanda pertama kali, sebagian besar masyarakat yang menjadi panik dalam membeli produk. Secara umum, masyarakat membeli produk-produk, termasuk produk pangan dalam jumlah yang sangat banyak untuk stok ataupun mengantisipasi wabah.
Panic buying tersebut bisa saja menyebabkan krisis persedian pangan global (Thukral, 2020) dan memicu kenaikkan bahan pangan. Sebagai contoh dalam Kompas (2022) dibuktikan bahwa masker, handsanitizer, susu beruang, temulawak dan minyak goreng sempat mengalami kekosongan.Selain itu, dalam penelitian Fadila & Holik (2021) terbukti bahwa vitamin serta obat-obatan menjadi kosong.
Pemerintah serta menteri juga menyarankan agar masyarakat tidak menjadi panik. Sesungguhnya panic buying disebabkan oleh rasa takut masyarakat akan kelangkaan dan kekurangan obat yang dibutuhkan (Fadila & Holik, 2021). Eva (2020) menambahkan bahwa masyarakat juga belum tahu sampai kapan pandemic berakhir. Bassett (2020) menambahkan bahwa ketika kita membeli banyak barang, misalnya tisu toilet.
Kita merasa aman dengan pembelian sebanyak
itu, namun perlu diingat bahwa kita hidup bukan sendirian. Masih banyak
teman-teman kita yang membutuhkan barang tersebut. Sebagai masyarakat, berdasarkan Arafat et al. (2021) langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk
mengendalikan panic buying:
1.
Berbagi
Berbagi dapat meningkatkan rasa kekeluargaan antar sesama. Rasa kekeluargaan antara sesama dapat mengurangi panic buying yang diperoleh. Selain itu, membeli secara cukup dan mempertimbangkan bahwa sesama kita manusia yang masih membutuhkan barang tersebut.
Rasa simpati dan kebaikan kita sangat dibutuhkan. Misalnya, ketika terdapat orang yang membutuhkan tisu toilet yang sedang langka dan orang tersebut meminta kepada Anda. Anda perlu memberikan tisu toilet tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Anda memiliki rasa simpati. melakukan kebaikan terhadap orang yang sedang benar-benar membutuhkan.
Selain
itu, Anda membuktikan bahwa memanusiakan manusia adalah prioritas utama. (Bassett, 2020)
2.
Kurangi penggunaan sosial media.
Topik percakapan tentang kelangkaan barang dapat memicu panic buying. Media sosial merupakan salah satu faktor yang dapat membuat kepanikan masyarakat bertambah. Berdasarkan penelitian dari Arafat et al. (2021) telah membuktikan di Negara Irak sebanyak 42,1% masyarakat yang panic buying dan sebesar 32,8% responden berpikir bahwa panic buying dipengaruhi oleh media sosial.
Kurangi penggunaan sosial media, misalnya mengikuti forum yang membahas tentang persediaan langka suatu barang atau melihat foto-foto rak supermarket kosong, laporan persediaan barang yang kosong (Frontiersin, 2020; Openlearn, 2021).
Dalam menggunakan media sosial, kita dapat mengajak teman-teman kita untuk membeli barang secukupnya serta percaya kepada langkah yang diambil pemerintah , sehingga public awareness dapat terjaga. Mari dengan bijak menggunakan media sosial.
Berdasarkan World Atlas (2020) yang dikutip dari liputan6.com, pisang merupakan buah terpopuler kedua setelah buah tomat. Pisang memiliki banyak kandungan kalium, yang berguna untuk mempertahankan imunitas dan kebugaran tubuh. Selain itu, berdasarkan penelitian Revelo-Cáceres (2020) telah dibuktikan bahwa pisang merupakan salah satu agen yang dapat membuat minuman selada Romaine menajdi lebih disukai. Pisang merupakan buah yang cepat rusak. Hustiany & Rahmi (2020) berpendapat bahwa pisang kepok memiliki umur simpan yang relatif pendek, sedangkan pisang cukup banyak diminati oleh masyarakat, serta memiliki produktivitas yang tinggi, yaitu 696,689-883,394 kuintal/tahun dari tahun 2012 hingga 2017. Beberapa penyebab pisang menjadi rusak, yaitu:
1. Kadar air yang tinggi
Tidak hanya semangka dan melon. Ternyata, pisang merupakan buah yang mudah rusak. Hal ini disebabkan oleh kadar air yang tinggi. Hapsari & Lestari (2016) bahwa kadar air pada pisang Indonesia berkisar antara 62,01-80,94%. Selain itu, pisang memiliki aktivitas air yang tinggi berkisar antara 0.987–0.964 (Schmidt & Fontana, 2020). Teori ini diperkuat oleh Sperber (1983) yang mengatakan bahwa pengurangan aktivitas air berdampak sangat drastis pada pertumbuhan bakteri. Semakin rendah aktivitas air, maka semakin tinggi bakteri tersebut menjadi inaktif atau mati.
2. Termasuk buah klimaterik
Buah klimaterik adalah buah yang masih bisa mengalami proses pematangan secara cepat setelah panen. Namun, sesungguhnya pisang dipetik ketika matang yang ditandai dengan kulit yang berwarna hijau agar mencapai proses masak di tangan konsumen. Selama proses pematangan berlangsung, terdapat gas etilen yang bersumber dari pisang itu sendiri yang dapat mempercepat kematangan pisang. Apabila tidak dikendalikan, maka akan menyebabkan kebusukan. Teori ini didukung oleh Arti & Manurung (2020) mengemukakan bahwa buah klimaterik pada saat proses ripening lebih besar dibandingkan dengan buah non-klimaterik. Hal ini dikarenakan gas etilen dapat menyebabkan enzim-enzim, yaitu selulase dan klorofilase menjadi sangat aktif, sehingga berkontribusi terhadap pelunakan struktur dinding sel dan perubahan warna buah yang tidak diinginkan.
3. Adanya memar
Pisang dapat menjadi memar, ketika terbentur ataupun jatuh selama pengiriman. Pengiriman di jalan yang berbatu / bergelombang, serta kapasitas penampungan truk yang overload dapat memicu memar pada buah (Kuyu & Tola, 2018). Selain itu, buah juga dapat memar ketika adanya vibrasi, dan kompresi. Memar pada buah bisa saja dapat memicu fungal infection dan membuat buah tersebut menjadi berjamur. Umumnya, jamur yang dapat tumbuh pada pisang yaitu Collectotrichum musae dan Fusarium spp. Fernando & Stanley (2019) juga mengemukakan bahwa memar dapat memicu reaksi pencoklatan pada pisang dan dapat meningkatkan aktivitas enzim yang dapat menurunkan kualitas warna serta melunakkan tekstur dinding sel. Tanda-tanda memar pada pisang ditandai dengan adanya warna kecokelatan di bagian pundak dan leher pisang.
4. Tempat penyimpanan yang tidak sesuai
Tempat penyimpanan yang kotor, artinya penuh dengan serangga, tidak memiliki pengaturan humidity dan suhu, serta tempat penyimpanan buah yang setengah busuk dan segar yang tidak dipisah. Adanya hal ini dapat menyebabkan cross contamination, yang dapat menurunkan kualitas pisang. Suhu gudang penyimpanan perlu dikendalikan. Menurut Mohapatra (2010) menyimpan pisang di suhu dingin adalah hal yang tidak disarankan, karena menurutnya pisang sangat sensitif terhadap perubahan temperatur. Misalnya, pada saat suhu dibawah 10 derajat celcius, pisang mengalami chilling injury, yang ditandai dengan munculnya bintik cokelat di bagian kulit pisang
Apabila disimpan di suhu di atas 30 derajat celsius, maka akan menurunkan produksi etilen dan membuat warna pisang menjadi tidak merata. Oleh karena itu, tempat penyimpanan pisang yang ideal adalah 13 hingga 14 derajat celsius saat transportasi. Tempat penyimpanan yang terlalu lembab (diatas 95%) akan menyebabkan pektin menjadi rusak sehingga kulit pisang menjadi rusak. Oleh karena itu, akan lebih baik dalam menyimpan pisang dalam tingkat kelembapan yang lebih rendah. Tingkat kelembapan yang lebih rendah akan membuat produksi etilen dan respirasi buah lebih terkendali.
DAFTAR PUSTAKA
Arti, I. M., & Manurung, A. N. H. (2020). Pengaruh Etilen Apel dan Daun Mangga Pada Pematangan Buah Pisang Kepok (Musa paradisiaca formatypica). Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture), 2(2), 77-88.
Barth, M., Hankinson, T. R., Zhuang, H., & Breidt, F. (2009). Microbiological spoilage of fruits and vegetables. In Compendium of the microbiological spoilage of foods and beverages (pp. 135-183). Springer, New York, NY.
Dahlia, A., Haryanto, A., & Suhandy, D. (2016). Studi Penggunaan KMno4 untuk Memperpanjang Umur Simpan Pisang Muli. Jurnal Teknik Pertanian Lampung, 5(2), 67-72.
Fernando, I., Fei, J., Stanley, R., & Enshaei, H. (2019). Assessment and characterizing mechanical damage in packaged bananas in the post-harvest supply chain. In MATEC Web of Conferences (Vol. 296, pp. 1-10). EDP Sciences.
Hapsari, L., & Lestari, D. A. (2016). Fruit characteristic and nutrient values of four Indonesian banana cultivars (Musa spp.) at different genomic groups. AGRIVITA, Journal of Agricultural Science, 38(3), 303-311.
Hustiany, R., & Rahmi, A. (2020). UPAYA MEMPERTAHANKAN UMUR SIMPAN PISANG KEPOK DENGAN KEMASAN AKTIF BERBAHAN ARANG AKTIF CANGKANG KELAPA SAWIT. Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 30(2).
Kuyu, C. G., & Tola, Y. B. (2018). Assessment of banana fruit handling practices and associated fungal pathogens in Jimma town market, southwest Ethiopia. Food science & nutrition, 6(3), 609–616. https://doi.org/10.1002/fsn3.591
Mohapatra, D., Mishra, S., & Sutar, N. (2010). Banana post harvest practices: Current status and future prospects-A review. Agricultural Reviews, 31(1).
Revelo-Cáceres, D., Oliveras-López, M. J., Villalón-Mir, M., Navarro-Alarcón, M., & de la Serrana, H. L. G. (2020). Development of an Infusion Based on Romaine Lettuce and Banana for Treating Insomnia. Agricultural Sciences, 11(06), 529.
Sperber, W. H. (1983). Influence of water activity on foodborne bacteria—a review. Journal of Food Protection, 46(2), 142-150.
Schmidt, S. J., & Fontana Jr, A. J. (2020). E: Water Activity Values of Select Food Ingredients and Products. Water activity in foods: Fundamentals and applications, 573-591.
https://www.liputan6.com/global/read/4369156/ini-8-buah-terpopuler-di-dunia-mana-favoritmu. Diakses tanggal 14 April 2022. Pukul 22:05.
http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/khasiat-dan-manfaat-pisang#:~:text=Buah%20pisang%20kaya%20akan%20vitamin,bagi%20tubuh%20untuk%20tetap%20bugar. Diakses tanggal 14 April 2022. Pukul 22:05.
Star Anise
http://theepicentre.com/spice/star-anise/
Chinese utilizes star anise as a spice in Chinese Tea Eggs culinary or in Indonesia, known as pindang eggs. Cooked curries🍛, broths, meats and soups can be incorporated with star anise in Vietnam and India. Besides being able to be applied in culinary, star anise has various benefits in the food sector. Star anise is useful in the confectionary field, i.e. pastilles and medicinal tea. Europe uses star annise as a flavoring agent in jams, breads 🍞, various desserts and liquers, i.e. anisette and pernod. The distinctive aroma of star annise is mainly caused by the two components, i.e. trans anethol and shikimic acid (Boota et al., 2018).
Based on Patra et al. (2020), apart from making the dishes more flavorful, star anise has a functional component, i.e. shikimic acid, which contributes in relieving respiratory-related diseases, i.e. influenza, tuberculosis, flu, irritation in the lungs, bronchitis and coughs. Patra et al. (2020) added that there are more than 10 other bioactive components with various ingredients that are beneficial to the body, including 3-hydroxybenzoic acid which functions as an anti-depressant. Other bioactive components have various benefits, i.e. antibacterial, antioxidant, anti-inflammatory, anticoagulant, antifungal, anticancer, analgesic. The seeds contained in the flower petals of star anise has proven to be useful for increasing food digestibility (Boota et al., 2018).
~😀
References
Anonim. (2020). BAB II PERANCANGAN MEDIA INFORMASI REMPAH BUNGA LAWANG DALAM RESEP BUMBU MASAKAN ACEH. https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/701/jbptunikompp-gdl-ichsannim5-35034-9-unikom_i-i.pdf. Diakses pada tanggal 20 Desember 2020. Pukul 15:35.
Boota, T., Rehman, R., Musthaq, A., Kazerooni, E.G. (2018). Star Anise: A Review on Benefits, Biological Activities and Potential Uses. International Journal of Chemical and Biochemical Sciences. Hal 110-114. Diakses tanggal 20 Desember 2020. Pukul 15:56.
LPPM. (2011). Manfaat Si Cantik Pekak / Bunga Lawang. https://lppm.ipb.ac.id/manfaat-si-cantik-pekak-atau-bunga-lawang/. Diakses 20 Desember 2012. Pukul 15:52
Patra, J. K., Das, G., Bose, S., Banerjee, S., Vishnuprasad, C. N., del Pilar Rodriguez‐Torres, M., & Shin, H. S. (2020). Star anise (Illicium verum): Chemical compounds, antiviral properties, and clinical relevance. Phytotherapy Research, 34(6), 1248-1267.
Rosari, A. R., Duniaji, A. S., & Nocianitri, K. A. (2018). UJI FITOKIMIA EKSTRAK BUNGA LAWANG (Illicium verum Hook. f) DAN DAYA HAMBATNYA TERHADAP Staphylococcus aureus. Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan (ITEPA), 7(4), 148-155.
Shahrajabian, M. H., Sun, W., & Cheng, Q. (2019). Chinese star anise and anise, magic herbs in traditional Chinese medicine and modern pharmaceutical science. Asian Journal of Medical and Biological Research, 5(3), 162-179.
Winarsih, S., Vamelia, R. E., Nurlaily, N., & Tanzila, M. G. (2018). Identifikasi Senyawa Aktif Crude Ekstrak Bunga Lawang (Illicium verum) dan Uji Antimikrobia Pembusuk Dari Daging Ayam Broiler. Jurnal Agroteknologi, 12(02), 196-202.